Ekosistem Perfilman Indonesia Harus Tetap Hidup Ditengah Pandemi Covid 19

Mengawal Film Nasional Saat Tayang di Era New Normal. (Foto : Fah)

Pandemi Covid 19 yang kini sudah berjalan lebih dari 3 bulan mengakibatkan industri dan ekosistem perfilman mendapatkan dampak yang sangat signifikan. Melihat itu, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru (PMMB) Kemendikbud RI menyelenggarakan Webinar bertajuk ‘Mengawal Film Nasional Saat Tayang di Era New Normal’ di Jakarta, Jumat (12/6).

Acara yang diikuti lebih dari 67 peserta ini menghadirkan nara sumber antara lain Eldi Suwardi sebagai perwakillan dari Hilmar Farid.Ph.D.(Direktur Jenderal Kebudayaan), Yan Widjaja (Pengamat Perfilman dan Wartawan Senior), Sidi Saleh (Seneas -Akademisi), Lola Amaria (Produser), Acha Septriasa (Artis), Patrick Effendy (Ip.Producer.Cu- Founder Majelus Lucu.Koordinator Pokja Literasi Film, Direktorat PMMB Kemendikbud RI Eldy Suwardi Indonesia) dan diapandu oleh Arul Arista dan Benny Benke

Eldy Suwardi mengungkapkan bahwa ekosistem perfilman harus tetap dan terus hidup, meski ada pandemi Covid-19. Pemerintah juga mendukung pertumbuhan film Indonesia, seperti yang dikatakan Presiden.

Lola Amaria – artis, sutradara dan produser. (Foto : Fah)

“Pada akhir minggu besok kita mengadakan loncing film. Pada masa Covid-19 ini kami sudah kumpulkan, dan per Filman udah memberikan apresiasi agar Film Indonesia selalu bisa tayang dan selalu ada dihati masyarakat Indonesia,” jelas Eldy.

Yan Widjaja sealaku pegamat film mengatakan bahwa di tahun 2020 ini ada 122 film Indonesia yang belum tayang di bioskop. Sedangkan yang sudah tayang per tanggal 1 Januari hingga Marer 2020 lalu, baru 28 judul. Sedangkan film import yang belum tayang, berjumlah 180 judul.

BACA JUGA:  Lewat Babak ‘Saling Senggol’, Sella (Tim Kiyowo) Diselamatkan Juragan Soimah, Maju Ke Babak Selanjutnya

“Bisa dibayangkan, bagaimana tidak berdesak-desakan. Padahal tahun ini tinggal enam bulan. Apalagi ada beberapa film yang belum tayang seperti Hamka, Taufan, Bung Hatta dan Gatotkaca, sangat dinanti penontonnya” terang Yan.   

Sementara Lola Amaria, artis yang juga sutradara dan produser film menuturkan, saat ini protokol kesehatan khusus nonton film di bioskop belum ada.

“Apalagi sekarang ini sudah pemberlakuan baru (new normal) pasti ikut berubah. Sistemnya seperti apa dan berapa kali tayang, kita belum tahu,” ucap Lola.

Djonny Syafruddin – Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) . (Foto : Fah)

Lolapun tidak mau ambil resiko bila penonton terpapar karena covid 19 saat pergi nonton film dibioskop. Iapun juga tidak mau bioskop terhenti juga, seperti diketahui banyak juga proses syuting terhenti akibat wabah ini.

“Kita butuh ide – ide baru yang fresh untuk itu. Mungkin kita bisa lakukan minimalisasi ongkos produksi saat syuting. Tapi biaya syuting akan melonjak jika kita mengacu standar kesehatan, karena kita butuh rapid test dan lainnya,” pungkas Lola.

Lain halnya dengan Jhony Sjafrudin Djonny Syafruddin, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) bahwa penonton film Indonesia sangat jeli dan sangat paham sekali film mana yang harus ditonton atau dihindari.

“Di luar persoalan sistem juga tata edar yang fair, faktor promosi dan riset penonton film, juga menjadi salah dua kunci kesuksesan sebuah film,” pungkas Jhony.Fah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *