Film Jejak Cinta, Romantika Yang Mengangkat Kearifan Lokal Kota Singkawang, Batik Tidayu

Preskon Film ‘Jejak Cinta’ XXI Epicentrum Kuningan Jakarta. (Foto:Fah)

Traz Picture bekerjasama dengan Scene Picture menghadirkan sebuah film yang mengangkat tentang isu kesehatan kanker serviks yang dipadukan dengan kearifan lokal Kota Singkawang, Kalimantan Barat yang kental dengan budaya khas masyarakat Tidayu (Tionghoa, Dayak dan Melayu) berjudul ‘Jejak Cinta’.

Film yang disutradarai secara apik oleh Tarmizi Abka ini mengisahkan tentang seorang desainer batik bernama Maryana (Prisia Nasution), yang melakukan riset di Singkawang untuk mencari motif batik asli dari tanah kelahirannya, yang akan diikutkan dalam ajang Festival Batik di Berlin, German. Maryana sangat khawatir dirinya terkena kanker serviks dikarenakan almarhumah ibunya meninggal karena kanker serviks stadium 4. Maryana memeriksakan dirinya ke rumah sakit, namun iapun tidak berani membuka amplop hasil pemerikasaan dokter tersebut, karena khawatir hasilnya adalah posiitif terkena kanker serviks.

Disisi lain sang suami yang bernama Hasan (Baim Wong) ingin sekali mempunyai anak. Permasalahanpun bertambah rumit ketika Hasan bertemu dengan mantan pacarnya Sarah. Terlebih kini keluarga Sarah mendapatkan musibah dimana ayahnya terlibat sebuah kasus, sehingga Hasanpun menolongnya, namun ia bingung karena sudah memiliki istri.

Tarmizi Abka saat memberikan keterangan persnya di XXI Epicentrum, Kuningan , Jakarta. (Foto:Fah)

“Film ‘Jejak Cinta’ membawa pesan bagi wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif. Film ini juga mengusung pesan kepada para wanita untuk mencegah dan menghindari penyakit kanker serviks ini,”ujar Tarmizi Abka selaku sutradara disela – sela preskon film Jejak Cinta di XXI Epicentrum, Kuningan Jakarta, Minggu (2/9).

BACA JUGA:  IFC PerkenalkanTrend Fashion Di Indonesia Pada Media, Buyer dan Stakeholder Lewat Media Viewing Trend 2018
Hasan Karman – Produser Eksekutif dan Emma Febri (istri ). (Foto;Fah)

Sementara Hasan Karman, Produser Eksekutif mengatakan selain tentang kanker serviks film ‘Jejak Cinta’ juga membawa pesan kebangsaan dari ranah Singkawang yang dijuluki ‘Negeri 1000 Kelenteng’ini.Tak hanya itu, film ini juga mengangkat realita kehidupan Singkawang baik masyarakatnya, budaya dan objek wisata yang ada di Kota Singkawang.

“Singkawang, Kalimantan Barat ini masyarakatnya merupakan perpaduan etnis yang kekayaan budayanya menjadi daya tarik tersendiri. Selain mengangkat sisi romantika, film ‘Jejak Cinta’ mengangkat batik khas Singkawang yakni batik Tidayu,” terang Hasan.

Para Tatung asal Kota Singkawang, Kalimantan Barat. (Foto:Fah)

Hasan juga menambahkan Melalui film ini juga ingin menyampaikan pesan kebangsaan, yakni persatuan bangsa yang multietnis. Diharapkan dengan menonton film ini masyarakat Indonesia makin kuat persatuannya dan saling menghargai satu sama lain.

“Film ini sekaligus menggambarkan persatuan Tidayu yang sangat baik di Singkawang. Kami berharap film ini bisa menginspirasi masyarakat Indonesia di wilayah manapun untuk menjaga persatuan dan kesatuan,”papar Hasan.

Preskon film Jejak Cinta di XXI Epicentrum , Kuningan Jakarta. (Foto:Fah)

Zora Vidayatia yang berperan sebagai Wina, sahabat Maryana ini juga mengungkapkan bahwa dirinya yang merupakan kelahiran Kalimantan Barat merasa senang ikut bermain di Film ‘Jejak Cinta’, terlebih dirinya juga bisa bermain dikampungnya sendiri.

“Selama ini aku bermain film ataupun sinetron belum pernah dikampung sendiri, jadi ya merasa senang banget bisa bermain dikampung sendiri. Apalgi film ini mengangkat tema kearifan lokal juga, khusunya Kota Singkawang,”pungkas Zora.Fah

BACA JUGA:  Peserta Audisi  Rising Star 2018 Di Kota  Bandung Melebihi Target

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *