Teuku Chandra Adiwana, Nama Dapat Memberikan Energi, Berdampak Pada Nasib Seseorang

Teuku Chandra Adiwana – Pakar Logo dan Nama. (Foto : Fah)

‘Peruntungan nasib seseorang sangat ditentukan dari nama yang dimiliki, semakin bagus namanya maka peruntungannyapun jauh lebih bagus. Persiapan suatu nama itu hendaknya jauh – jauh sudah dipersiapkan. Namun hal ini jarang diwariskan kepada anak muda yang mau memasuki jenjang pernikahan’.

Demikian dikatakan Teuku Chandra Adiwana, pakar logo dan nama pada libertymgaz.com

Menurutnya alangkah bagusnya nama tersebut dipersiapkan minimal beberapa tahun sebelum menikah sudah dipersiapkan nama-nama yang bagus/hebat ataupun soleh/solehah untuk anaknya. Bukan saja saja membawa peruntungan baik pada anaknya namun untuk keluarga/keturunan dan bahkan pada bangsa dan negaranya.

“Wajar saja karena tidak dipersiapkan namanya gaya hidup negara kita tidak beraturan, pun anak tersebut sering sakit dan lainnya. Idealnya 5 tahun sebelum nya memang harus dipersipakan sebuaah nama buat calon anaknya. Sekarang ini nunggu anaknya lahir dulu sehingga anaknya lahirpun tidak seperti yang diinginkan, karena bila jauh-jauh hari tentunya nama itu selalu didoakan terus,”terangnya.

Chandra menjelaskan untuk menganalisa sebuah nama itu bisa dilihat dari karakter hurufnya dengan nama yang ada, baik itu bahasa Arab, China , latin, Ibrani, Yunani, Jawa dan lainnya. Kesemuanya mencerminkan karakter gaya hidup si pemiilik nama, contohnya nama Diponogoro yang menggunakan nama Jawa yang menggunakan huruf triple ‘O’ maka sipemilik nama ini orang yang energik yang selalu berputar sehingga wajar nama itu diberikan oleh seorang anak pangeran.

“Dia hidup didalam istana dan keluar dari istana karena ingin hidup yang berputar, karena nama itu mengundangnya untuk hidup diluar padahal dia wajib hidup dalam istana. Jadi nama itu menjadi do’a secara otomatis,” urainya.

Begitupun dengan nama ‘Raden Masaid’ yang berubah ‘Sunan Kalijaga’ dan ‘Pangeran Sambernyawa’ lanjut Chandra, bila diteliti yang memiliki karakter yang sama yang berasal dari jagoan yang pemberani yang menjadi tokoh yang dipanuti dan dihormati.

“Ini dilihat saat keduanya dipanggil pulang sampai saat ini orang-orang masih mau berjiarah kuburnya,” katanya.

Chandra juga menerangkan bahwa dalam nama panggilanpun tidaklah boleh main-main seperti Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Aburizal Bakrie (ARB) nya yang merupakan singkatannya mengartikan bahwa setiap nama di Indonesia dengan inisial statusnya tersangka atau terdakwa. Bila suatu nama dipanggil dengan singkatan seperti ini secara tidak langsung dido’akan akan jadi tersangka atau terdakwa. Berbeda dengan Abdurrahman Albakhil (tokoh Andalusia) yang dalam perjalanannnya dipanggil dengan Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan Gusdur masih terbilang bagus.

“Kita tidak berbicara baik buruk atau apapun, namun bila seseorang menggunakan dengan nama singkatan atau inisial maka pemilik nama akan rugi karena hukum di Indonesia dari jauh-jauh hari sebelumnya setiap tersangka atau terdakwa adalah nama yang disingkat. Siapapun tokoh yang menggunakan nama singkatan suatu saat wajib menjadi terdakwa, karena dia telah mendo’akan menjadi tersangka,” jelasnya.

Chandra berpendapat dengan penelitiaannya, suatu nama tidaklah ada dilihat dari terlalu berat atau besarnya, namun nama tersebut diberikan tidaklah sesuai dengan tanggal lahir seseorang tersebut sehingga nasib seseorang menjadi tidak baik, karena nama memberikan energi yang lebih. Bila dalam kenyataannya nama yang baik masih tetap kurang beruntung maka merupakan suatu ujian dari Allah SWT.

“Selama analisa lebih dari 15 tahun, 4 bulan sebelum anak dilahirkan dan diberikan nama yang bagus, ternyata bayinya dilahirkan tidak ada yang sesar. Lebih dari itu, rata-rata anak tersebut memiliki kelebihan ketimbang anak lainnya,” paparnya.

Buat nama yang dapat mempengaruhi hal yang positif menurut Chandra memiliki unsur nama yang artinya baik, beruntung, sifatnya tidak lelah, nama-nama tokoh yang kuat dan nama-nama Tuhan yang bagus. Dalam prakteknya untuk memilih nama sebenarnya dianggapnya mudah dari jutaan nama yang ada namun yang menjadi permasalahan adalah memberikan nama yang bagus terlambat.

“Hal ini juga bisa disamakan dengan bila ingin menikmati sesuatu terlambat menjadi tidak bagus, begitu juga nama-nama yang diberikan,”tandasnya.

Chandra menambahkan bila sebaliknya nama yang membuat seseorang itu energinya kurang dikarenakan huruf-huruf nya kurang, seperti contoh nama ‘Subrata’ yang merupakan nama yang hebat, namun karena hanya memakai ‘Subra’ saja maka ada sesuatu yang kurang namun energinya tetap hebat.

“Jadi ada yang kurang pada garis nasibnya kadang kesehatannya kurang, dan bila dilihat karirnya tetap hebat namun pontang-panting untuk mendapatkannya,”tegasnya.

Bila sudah terlanjur nama yang diberikan membuat energinya kurang maka ia menyarankan orang tersebut haruslah sadar dan segera memperbaikinya dengan menggantikan nama yang kurang atau menambahkannya guna menjadi nama dengan arti yang lebih baik, bermanfaat dan indah. Sesuai dengan janji Allah SWT bahwa ‘Allah tidak akan merubah suatu kaum bila kaum itu tidak mau merubahnya’.

“Untuk perubahan nama biasanya akan terlihat hasilnya setelah 100 hari dalam hal papun. Tak hanya nama orang saja, nama usahapun juga demikian,” ujarnya.

Untuk tradisi merubah nama dari nama anak menjadi nama dewasa Chandra menerangkan bahwa hal itu terjadi pada keluarga besar Minangkabau, dimana terdapat tradisi ‘ketek banamo gadang bagala’ yang merupkan saat kecil dipanggil nama, besar dipanggil gelar.  Sebelum berkeluarga namanya dipanggil dan setelah berkeluarga dipanggil marganya dan gelar ini akan mempengaruhi hidup untuk lebih nyaman dan lebih berkah.

“Alangkah baiknya kenapa tidak dilakukan sedini mungkin yang seharusnya sejak kecil saja,” pesannya.

Bila dikaitkan dengan nama artis yang berbeda dengan nama panggung menurut Chandra sah-sah saja namun juuga haruslah disesuaikan dengan nama panggung yang baik dan dilihat dengan menghitung tanggal lahirmnya lalu bis adiberikan nama kerennya. Seperti yang terdapat dengan nama beken Ayu Ting ting yang bernama asli Ayu Rosmalina merupakan nama panggung yang salah dan merugikan dengan Ting Ting nya yang memiliki hidup sendiri. Berbeda dengan Tukul Arwana yang membuat nya hebat karena adanya ‘Arwana’ dibelakangnya yang merupakan nama hoki.

“Bila ada rumah yang didalamnya ada ikan arwana terlebih lebih dari satu maka rumah itu tidak miskin. Arwana itu ikan yang mahal, lucu dan energik, maka wajar Tukul dibayar mahal, orangnya energik dan membuat orang tertawa dengan lucunya, Begitupun dengan nama,”pungkasnya.Fah

 

 

 

COMMENTS