Raden Reza Pramadia, Berburu Benda Antik Bertuah Hingga Ke Negara Negara Eropa

Raden Reza Pramadia dengan koleksinya pusaka bertuahnya. (Foto : Fah)

Berawal dari kelebihan yang dimiliki dengan indera keenam nya lelaki yang masih kerabat Keraton Kacirebonan Raden Reza Pramadia memiliki hobi mengoleksi benda- benda antik dan bertuah. Ribuan koleksinya terpajang dalam sebuah rumah galerinya di bilangan Wahidin Jalan Pandu, Cirebon Jawa Barat, mulai dari keris, lukisan, keramik, samurai, seperangkat gamelan, topeng, wayang kulit, patung, kaligrafi islam,  jenglot dan lain sebagainya.

Ia mengaku semua benda-benda tersebut didapatkannya dari berbagai daerah seluruh Indonesia dan bahkan luar negeri (China, Malaysia, Belanda, Amerika, Francis, Jerman dan lainnya) baik dengan gaib maupun dengan membelinya saat dirinya berlibur ataupun jalan-jalan.

Untuk pertama kalinya iapun mendapatkannya saat dirinya masih duduk di bangku SMU dimana dirinya yang saat itu bertemu dengan seseorang tukang becak dan diberikan sebuah taring macan yang cukup besar. Apa yang terjadi dengan dirinya ternyata iapun sepertinya tidak pernah takut dengan siapapun dan membuat dirinya menjadi pemberani. Suatu kejadian, saat ditengah perjalanan ketika hendak pulang kerumah ia bertemu dengan laki-laki yang usia nya lebih tua dan berbadan besar dimana iapun berani menantang nya untuk berkelahi.

“Nenekpun tahu tentang benda itu akhirnya diambilnya dan katanya saya belum cukup umur untuk memilikinya,” cerita Reza.

Sepulangnya bertemu dengan tukang becak itu Reza juga mendapatkan sebuah benda yang didapatkannya tanpa disengaja, dimana dirinya melihat sesuatu yang bentuknya seperti kunang-kunang yang terbang.

“Saya kira itu kunang-kunang tapi setelah ditangkap ternyata berubah menjadi batu bentuknya bongkahan, setelah itu kalau lihat sesuatu menjadi penasaran akhirnya semua berjalan dengan sendirinya. Sempat dikasih tahu juga sama orang tua bahwa saya tidak boleh ngambil sesuatu itu seenaknya karena barang itu sebenarnya ada yang punya,” terangnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Reza pun makin mumpuni dan tajam dalam melihat sesuatu yang dianggapnya benda – benda bertuah dengan sendirinya. Apa yang didapatkannya itu tak hanya batu tetapi benda-benda pusaka seperti keris yang umurnya ratusan tahun baik kerajaan Majapahit, Mataram, Hindu dan lainnya.

Salah satu koleksi Raden Reza yakni Alquran dari kulit lontar. (Foto : Fah)

Dari banyaknya pusaka yang dimilikinya ada satu yang sangat disukainya yaitu keris yang bernama Paksi Nagaliman yang bentuknya burung garuda naga dan kepalanya gajah .

BACA JUGA:  H. Puspo Wardoyo, Pemilik Restoran Wong Solo “Bekerja Adalah Jihad, dan Banyak Istri, Banyak Anak, Banyak Rezeki.”

“Sebenarnya ini adalah perwujudan kereta kencana di Keraton Kanoman , selain nilainya memang tinggi keris ini juga didapatkannya juga nggak mudah dengan berpuasa dan menyepi beberapa hari dengan pantangan – pantangan tertentu di keraton. Makin mendekati hari ‘h’-nya selama 7 hari itu makin berat,”akunya.

Dari semua benda-benda yang ada menurut Reza memang kebanyakan memiliki ‘isi’ atau sesuatu didalam nya mengingat pusakanya itu peninggalan jaman dahulu  sehingga kadang kala galarinya itu juga terjadi hal-hal aneh mulai dari keris diruangan kamar  (luasnya 3x3m) dan sering kali terjadi kegaduhan.

“Bahkan terkadang juga keris tersebut sering keluar masuk ataupun berpindah tempat dan ada beberapa keris yang terlihat wujud aslinya dan pernah tertangkap cctv infrared. Saya punya keris kecil semar dan ada mahluk kecil gemuk pendek masuk ke keris itu,” paparnya.

Begitupun dengan gamelan nya yang terkadang bunyi dengan sendiri nya dan benda-benda lainnya yang dianggapnya dapat memliki mistik tersendiri, sehingga keluarga, istri dan anak nya merasa ketakutan.

“Istri lagi tidur dikamar sering terdengar hal-hal aneh aja kayak ada yang mendobrak pintu tengah, jendela terbuka sendiri. Saat lagi ngobrol pun pernah melihat sosok mahluk tinggi besar lewat didepan ruangan depan, dan iapun sempat takut saat itu. Dikamar cctv juga kameranya bunyi sendiri makanya sekarang jadi rusak dan beberapa kali di perbaiki rusak kembali,” urainya.

Saah satu koleksi Raden Reza- Keramik dari China. (Foto : Fah)

Tak hanya istrinya, keponakannyapun yang masih kecil pernah diganggunya saat menginap, dimana setiap malam selalu saja ditunjukkan dengan mahluk sosok besar sehingga membuatnya sakit.

“Anaknya juga kepekaan nya tinggi jadi mungkin dirinya nggak kuat sehingga sakit,” tandasnya.

Begitu pun dengan keempat satpamnya, Desta, Anggun, Asep dan Supriyatno yang menjaga galerinya sering mendengar suara gamelan dengan lakon wayang nya pada hari-hari tertentu seperti malam Jum’at. Tak hanya itu mereka pun pernah melihat langsung burung hantu keluar masuk dari galerinya padahal pintu atau pun jendela dalam keadaan tertutup.

“Terkadang ada burung kecil juga dengan suara nya yang besar, kedengarannya jelas dan setelah saya cari adanya di belakang,” ujar Supriyatno.

Dengan lukisan yang bergambar Nyai Ratu Roro Kidul pun begitu juga, terkadang ada seorang perempuan yang sering lewat di ruangan tengah dan menghampiri lukisan tersebut. Hal ini sering dilihat oleh beberapa orang yang menjaga rumahnya. bila melihat lukisan itupun sepertinya terpaku seperti terhipnotis menjadi bengong sehingga membuat orang tersebut kesurupan.

BACA JUGA:  H. Muchbari MA, Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Menjangkau Milenial

“Makanya lukisan itupun dipindahkan didalam kamar untuk meghindari hal-hal yang tidak dinginkan,”kata Reza.

Reza juga menambahkan, ratusan wayang kulit yang sudah tua umurnya diletakkan di kotak persegi panjang yang terbuat kayu jati yang diatasnya bertuliskan dilarang diduduki. “Pernah kejadian juga teman kesurupan saat menduduki nya makanya ditulis peringatan ini,” katannya smabiil menunjuka tulisan peringatan tersebut.

Dengan topeng – topeng nya yang ada beberapa saat dipakai tidak bisa dilepasnya dan harus dibantu dengan orang yang mengerti. Jenglot yang tadinya dimiliki ada beberapa kini tinggal satu karena hilang dengan sendirinya. Patung yang bentuknya seperti tuyul yang terbuat dari kayu pilihan pun begitu makain lama makin berubah warnanya dan bentuknyapun makin seperti asli tuyul, karena dalam pembuatannya itu tudaklah sembarangan melainkan oleh orang yang mengerti ilmunya dan divisualisasikan. “Jadi sekarang warnanya sudah berubah persis sekali tuyul apalagi ada bintik-bintiknya, dan ini memang wajah tuyul,”jelas Reza.

 

Pembersihan dengan air kelapa dan jeruk nipis

Reza juga menerangkan bahwa benda-benda pusaka yang dimilikinya ini dianggapanya hanyalah sebuah benda yang memiliki nilai seni tinggi. Bila benda tersebut ada isi atau tidak nya hanyalah kelebihannya dan dirinya tidaklah menganggap yang berlebihan diatakutkan menjadi musyrik. Untuk merawatnya sendiri ia ia hanyalah sebatas untuk menghindari karat ataupun bersih ia hanyalah merendam dengan air kelapa dan dibersihkan dengan jeruk nipis. “Dikasih wewangian supaya wangi aja dan nggak ada unsure mistik nya,”tandasnya.

Ada benda pusaka yang memang secara khusus yaitu milik Keraton Keprabonan lanjut nya bernama Pulung Gana yang didapat dari salah satu keturuna raja-raja Cirebon. Yang diketahuinya bahwa benda Pulung Gana ini didapat oleh slah satu Sultan Raja Cirebon dimana saat berjalan-jalan di hutan dalam keadaan berpuasa tiba-tiba saja mendengar suara burung yang dianggap nya bukan burung biasa. Dengan membaca wirid akhirnya burung itu jatuh dan berubah menjadi batu yang bentuk nya burung. “Jadi sampai sekarang pun ada kunci nya bila dibaca maka batu itu pun akan bersuara seperti kicauan burung. Dan biasanya kasih melati juga biar wangi, tapi anehnya nggak lama itu melatinya langsung kering kayak kesedot,”jelasnya.

BACA JUGA:  Ronald Dharmaraja, Dirikan Komunitas Pondok Dewata Untuk Wisata Spiritual Dan Melestarikan Budaya Leluhur

Sebagai kolektor barang-barang antik daa bertuah tentunya tidaklah mudah dan pastinya mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Dalam hal ini Reza pun menepis uang yang dikeluarkannya tidak sampai puluhan milaran rupiah karena koleksinya itu dibelinya paling mahal hingga 150jutaan dan itupun lemari dan bangku. Sedangkan keramik – keramik dibelinya dari nelayan yang harganya cukup murah namun nilai sejarahnya cukup tinggi. Sedangkan keris-keris pusaka selain penarikan juga didapatkan dari orang-orang keraton yang memang tidak kuat lagi untuk mengurusnya sehingga hanya sekedar mahar saja. “Jadi nilai barang degan uangnya sangat jauh, karena saya bukan orang yang kebanyakan uang untuk mengoleksi,”tegasnya.

Menurut Reza dengan hobi nya ini istri maupun anak-anak nya kurang menyetuju namun dirinya beranggapan bahwa daripada mengerjakan hal-hal yang tidak baik seperti dugem ataupun lainnya lebih baik melakukan hal yang positif seperti sekarang ini. “Memang banyak kompleinnya sih namanya ibu – ibu rumah tangga pastinya dia juga takut untuk kebutuhan nya jadi kurang padahal nggak juga, terlebih lagi kan hobinya ini dibilang membuat dirinya jadi takut, makanya saya tempatkan khusus di galeri ini bukan di rumah tinggal,”paparnya.

Ia juga melanjutkan untuk memberikan pemahaman kepada istrinya tentang  hobinya ini bukanlah hal yang tidak baik melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya dan sejarah Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.”Anggap aja ini museum sejarah lah, dan nantinya ada ceritanya, karena barang-barang ini pastinya juga beda bernilai sejarah yang tinggi dari barang-barang yang sekarang,”tuturnya.

Saat ini Reza masih menginginkan banyak benda-benda pusaka yang dinginkannya lagi untuk dikoleksinya namun ada satu keinginan untuk mengangkat harta karun dibeberapa tempat yang ada di Indonesia. Menurutnya pekerjaan ini merupakan suatu tantang karena tidak semua orang bisa melakukannya. “Saya sanggup cuma takutnya tergoda aja dengan tumpukan benda-benda itu, karena belum bisa menguasai pikiran mengingat saya juga masih jiwa muda,”pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *