Mujtahid Hashem – Red White Holy Guard : Pembatasan Haji Seharusnya Tidak Boleh Terjadi

Mujtahid Hashem – Red White Holy Guard . (Foto : fah)

“Pergi Haji merupakan rukun Islam yang ke-5 yang diwajibkan kepada seluruh ummat Islam bagi yang mampu . Berdasarkan ketegasan perintah Allah ini, maka tidak ada alasan bagi pengelola Haramain menolak umat Islam untuk menunaikan ibadah Haji. Dan perintah Allah ini berlaku hingga akhir zaman

Demikian dikatakan Mujtahid Hashem dari Red White Holy Guard dalam Public Dialogue bertajuk “Indonesian Monitoring for Hajj Policy of The Saudi Kingdom” yang digelar Al Haramain Watch di Komunitas Budaya Guntur, Jalan Guntur 49, Menteng Jakarta, Kamis (8/8).

Bahkan menurut Mujtahid seperti yang dikatakan dalam Al Qur’an bahwa seluruh manusia untuk berhaji ke Makkah Baitullah. Namun yang terjadi adalah ketika Allah perintahkan untuk pergi haji dan kebetulan Makkah ini dibawah otoritas Kingdom of Saudi, membatasi orang yang pergi haji.

Public Dialogue bertajuk “Indonesian Monitoring for Hajj Policy of The Saudi Kingdom” yang digelar Al Haramain Watch di Komunitas Budaya Guntur, Jalan Guntur 49, Menteng Jakarta. (Foto : Fah)

“Kerajaan Saudi juga melarang dan membatasi umat Islam terutama dari Yaman, Qatar, Syria, Palestina untuk melakukan ibadah haji. Pembatasan ini jelas karena politik Saudi yang bermusuhan  dengan negara tersebut, bahkan Saudi melakukan agresi militer ke Yaman,”ungkap Mujtahid.

Berbeda dengan spirit al-Quran, Saudi secara defacto tidak memahami atau sengaja mengabaikan perintah Allah ini dengan tidak mempersiapkan Haramain bisa melayani umat Islam yang akan menjalankan ibadah Haji. Sehingga Saudi membatasi orang Islam yang akan menunaikan ibadah Haji dengan membuat kuota Haji dengan perbandingan sekitar 1000:1 dimana dari 1000 orang Islam hanya 1 orang yang diizinkan.

BACA JUGA:  Selangkah Lagi Pembatalan Sertifikat Hak Pakai No 450 Pemda NTT
Public Dialogue bertajuk “Indonesian Monitoring for Hajj Policy of The Saudi Kingdom” yang digelar Al Haramain Watch di Komunitas Budaya Guntur, Jalan Guntur 49, Menteng Jakarta. (Foto : Fah)

“Bahkan pada haji tahun ini umat Islam yang sudah berada di sekitar kota Makkah tidak bisa melaksanakan Haji karena masalah izin. Gubernur Makkah, Khalid Faisal melarang 300 ribu lebih hujjaj memasuki Makkah, sebagaimana diakui oleh Gubernur Makkah. Apa yang dilakukan Saudi ini jelas melanggar syariat Islam,”terang Mujtahid.

Lebih lanjut Muhtahid memaparkan bahwa larangan pengumuman politik, bara’ah atau belepas diri dari Musyrik dan Kafir karena permusuhannya terhadap kaum muslimin, kontradisktif dengan realitas politik Saudi saat ini yang bekerjasama dengan Amerika dan Zionist memerangi kaum muslimin, terutama di Yaman.

“Itulah kenapa banyak kalangan muslimin yang menyerukan Boycot Hajj, karena pendapatan haji dan umrah  dari kaum muslimin yang menyumbang 20% dari budget Kerajaan Saudi digunakan untuk memerangi umat Islam sendiri. Padahal Allah menyerukan bagi pengikut Rasulullah saw untuk tegas terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang terhadap sesama kaum muslimin. Justru politik Saudi kontradiktif dengan seruan al-Quran,”urai Mujtahid.

Public Dialogue bertajuk “Indonesian Monitoring for Hajj Policy of The Saudi Kingdom” yang digelar Al Haramain Watch di Komunitas Budaya Guntur, Jalan Guntur 49, Menteng Jakarta. (Foto : Fah)

Sementara Agus Abu Bakar Arsa dari Indonesian Committee of Hajj Administration menuturkan Ka’bah adalah symbol persatuan, persaudaraan dan perdamaian dalam Islam. Apa yang dilakukan Saudi of Kingdom tidak mengenal bulan haram, karena dalam Arab ada 4 bulan yang diharamkan untuk peperangan.  Dengan adanya permusuhan terhadap Yaman, Qatar, Syria dan Palestina diberlakukan adanya pembatasan haji di negara – negara tersebut.

BACA JUGA:  Menkumham Berikan Bantuan Paket Sembako, Face Shield dan APD Untuk Masyarakat Jawa Tengah

“Simbol Ka’bah sekarang ini sudah hilang sebagai persatuan, persaudaraan dan perdamaian sehingga membuat Ka’bah itu menjadi terhina. Maka larangan untuk pergi haji itu lebih buruk dari perbuatan orang – orang musyrik,”pungkas Agus Abu Bakar.Fah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *