Peranan Bidan Garis Terdepan Dalam pelayanan Kesehatan Ibu & Anak, Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Keluarga Berencana

Hari Bidan Sedunia 2019, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) menggelar seminar bertema “Perempuan dan Remaja Perempuan Berhak Atas Akses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi’ di H. Kartika Chandra , Jakarta. (Foto : Fah)

Dalam rangka memperingati Hari Bidan Sedunia 2019 yang jatuh pada 5 Mei, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dldukung oleh UNFPA Indonesia dan Global Affairs Canada (Kanada) menyelenggarakan seminar bertema “Perempuan dan Remaja Perempuan Berhak Atas Akses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi” di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (9/5).

Emi Nurjasmi, Ketua Umum IBI Pusat menerangkan bahwa bidan sebagai tenaga kesehatan strategis, berada pada garis terdepan dalam pelayanan Kesehatan Ibu & Anak, Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Keluarga Berencana. Bidan telah berperan besar terhadap penyelenggaraan layanan kesehatan terutama untuk kesehatan reproduksi perempuan dan kesehatan seksual, termasuk di masa pasca bencana.

Emi Nurjasmi – Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia  (IBI) Pusat . (Foto.Fah)

“Data juga menunjukkan bahwa upaya peningkatan masih dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan akan layanan kesehatan reproduksi perempuan dan kesehatan seksual yang komprehensif untuk pemenuhan hak asasi, khususnya bagi perempuan, bayi, balita, dan remaja,”ujar Emi.

IBI memiliki anggota sebanyak 324.515 bidan yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Bidan sebagai mitra kesehatan keluarga dan masyakarat, khususnya untuk kesehatan Ibu dan bayi. Mereka berperan sebagai penyedia layanan kesehatan, pendidik, penggerak peran serta masyarakat, pemberdayaan perempuan dan pelibatan masyarakat untuk kesehatan, serta sebagai pembuat keputusan. Delapan puluh lima persen pemeriksaan kehamilan, 62.7% persalinan, termasuk pelayanan KB dilakukan oleh bidan (Riskesdas, 2018).

“Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas perempuan di Indonesia memilih bidan sebagai tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan hak-haknya,”tandas Emi.

Para peserta seminar Hari Bidan Sedunia 2019 yang digelar Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bertema “Perempuan dan Remaja Perempuan Berhak Atas Akses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi’ di H. Kartika Chandra , Jakarta. (Foto : Fah)

Emi juga memaparkan bahwa data SDKI 2017, Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKB) di Indonesia masih tinggi, dan estimasi tahun 2015 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) masih tinggi (Supas 2015).

“Seyogyanya kematian ibu maupun bayi baru |ahir dapat dihindarkan lewat tersedianya layanan kesehatan yang bermutu dan mudah dijangkau, dalam hal ini tersedianya bidan berkompeten di tengah masyarakat, mudah diakses, dan didukung dengan fasilitas yang memadai. Bidan memiliki peran penting untuk menurunkan AKI dan AKB.” kata Emi

Sementara Peter MacArthur, Duta Besar Kanada untuk Indonesia. di Kanada, seperti halnya di Indonesia, bidan memainkan peran penting sebagai penyedia layanan kesehatan yang berpusat pada perempuan.Kanada percaya bahwa memperkuat peran bidan penting untuk menegakkan hak atas layanan kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan dan remaja.

Preskon seminar Hari Bidan Sedunia 2019, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bertema “Perempuan dan Remaja Perempuan Berhak Atas Akses Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi’ di H. Kartika Chandra , Jakarta. (Foto : Fah)

“Ketika wanita dan remaja, terutama anak perempuan memiliki kendali atas keputusan mengenai kehidupan reproduksinya, angka kematian dan kesakitan ibu dan anak menurun dan keluarga berkembang. Kanada berkomitmen $ 650 Juta secara global selama tiga tahun untuk meningkatkan kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksl bagi semua orang, termasuk $ 8 juta di Indonesia melalui Proyek BERANI,”urai Peter

Mr. Najib Assifi, Kepala Perwakilan UNFPA (ad interim) juga menambahkan bahwa 1 dari 10 perempuan tidak terpenuhi kebutuhan ber-KB-nya (SDKI 2017) dan hal ini sesungguhnya dapat dijawab oleh ketersediaan tenaga bidan yang terlatih dalam memberikan layanan kontrasepsi, di samping dukungan ketersediaan alat kontrasepsi.

“Perbaikan layanan kesehatan dapat dicapai dengan peningkatan kapasitas bidan untuk memberikan layanan kesehatan yang bermutu; penguatan mekanisme rujukan dan pembiayaannya; insentif yang memadai bagi bidan untuk penjangkauan layanan ke seluruh wilayah di Indonesia, serta berbagai kesempatan untuk perkembangan karir bidan,”pungkas Mr. Najib.Fah

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0