MEMASUKI JAMAN GORO-GORO, Bayangan Kemunculan Matahari Kembar

Pasca pilpes dan pileg, Indonesia memang bakal memiliki Presiden, Wakil Presiden dan wakil-wakil rakyat baru yang duduk di tingkat pusat dan daerah. Harapan baru terbentang seiring dengan harapan perubahan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia. Namun untuk mencapai tahanpan itu, memang tdak semudah membalik telapak tangan. Ada bebarapa tahapan dan proses yang harus dilalui terlebih dahulu.

Paling tidak harus menunggu penetapan siap pemenang pilpres pada 22 Mei 2019. Baru kemudian pengambilan sumpah dan janji Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada akhir 20 Oktober 2019.

Selama masa penantian tersebut, KPU memberikan kesempatan pada pihak yang bertarung dalam kontestasi pemilu untuk memberikan tanggapannya. Apakah akan menerima, menolak hingga melanjutkan langkah-langkah hukum ketingkat Makamah Konstitusi.

“Yang perlu diwaspadai adalah jeda waktu ini. Memang itu sudah menjadi hak bagi paslon presiden dan wakilnya untuk menyatakan ketidakpuasanya atas pemilu yang telah tergelar. Saya melihat, paslon yang dinyatakan kalah pasti akan melanjutkan ‘perjuangannya’,” buka Eyang Ratih saat diwawancara Libertymagz.com di kawasan Pesona Square Depok beberapa waktu lalu.

Eyang Ratih – Spiritualis (Foto : Fah)

Goro-Goro

Menurut Eyang Rath, rasa tdak puas dan merasa dicurangi akan dipakai sebagai alasan langkah untuk mengajukan gugatan. Cara-cara tersebut memang harus ditempuh bagi pihak yang ikut dalam pemilu dan itu konstitusional, tidak ada masalah.

“Yang jadi masalah, adalah jika para pendukung paslon yang memilih untuk melakukan cara-cara pengerahan massa. Pengerahan massa ini sangat berpotensi memicu kerawanan keamanan. Kalau massa sudah bergerak siapa yang akan menjamin
tidak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Tidak bisa, massa dengan kemarahan tinggi ini akan sangat mudah untuk terprovokasi dan melakukan tindakan anarkis,” terang Eyang.

Dalam terawangan Eyang Ratih, gejolak itu memang akan muncul, namun ia menolak memperinci gejolak seperti apa yang ia maksudkan. Eyang Ratih lebih menyimbolkan segala fenomena tersebut sebagai goro-goro. Dalam pewayangan fase goro-goro adalah masa awal atau masa transisi dari perpindahan situasi atau jaman.

“Suatu ketika Prabu Sri Jayabaya mengatakan bahwa keadaan Nusantara akan ada suatu
masa yang penuh bencana. Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut
dan sungai akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-
wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas. Kejadian kejadian tersebut telah kita alami bersama dan tidak menutup kemungkinan akan datangnya bahaya bencana yang lebih besar,” jelas Eyang Ratih.

Eyang Ratih Spiritualis. (Foto : Fah)

Matahari Kembar

Namun, lanjut Eyang, banyaknya berbagai bencana dan persoalan bangsa Indonesia yang datang dan pergi silih berganti apakah pertanda bahwa bangsa Indonesia tengah memasuki suatu masa yang disebut zaman “Kala Bendhu” atau “Goro-goro” yang digambarkan dengan “bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap”, bumi mengalami kegoncangan yang dahsyat hingga langit menjadi tergetar. Namun ini sebagai awal akan datangnya suatu zaman keemasan dengan datangnya seorang pemimpin yang amanah. Membawa Bumi Nusantara kearah Jayasempurna.

“Suro diro joyodiningrat lebur dening pangastuti” atau “semua angkaramurka atau tindak kejahatan akan kalah dengan keluhuran budi,” tegas Eyang.

Namun untuk mencapai masa itu, tidak dengan munculnya matahari kembar. Eyang Ratih menjelaskan dalam bahasa simbol, bahwa tidak mungkin dalam satu bangsa akan muncul dua orang pemimpin. Dualisme kepemimpinan ini akan justru akan menghancurkan sebuah bangsa.

“Pada masa-masa penetapan hingga pelantikan, saya sarankan pada masyarakat untuk tetap waspada, hindari keluar atau mengunjungi pusat-pusat keramian jika tidak ada keperluan yang mendesak. Mereka-mereka yang beribadah dan mengunjungi tempat-tempat ibadah juga harus lebih waspada. Karena kekacauan bisa terjadi dimana saja, ” katanya.

Untuk mencegah perpecahan dan kehancuran bangsa Indonesia, Eyang Ratih menyarankan
agar para tokoh nasional itu memiliki jiwa negarawan sejati. Artinya seorang patriot dan
nasionalis sejati yang bisa menerima kenyataan secara gentlement demi keutuhan dan masa depan bangsa Indonesia. Fah/wisnu

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0