H. Puspo Wardoyo, Pemilik Restoran Wong Solo “Bekerja Adalah Jihad, dan Banyak Istri, Banyak Anak, Banyak Rezeki.”

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo. (Foto : Fah)

Brand Rumah makan Ayam Bakar Wong Solo adalah salah satu dari sekian banyak bisnis kuliner yang  sukses mengembangkan usahanya di Indonesia. Ayam Bakar Wong Solo  memiliki ratusan Outlet  yang tersebar di seluruh Indonesia, Malaysia, Singapura, Jeddah hingga Qatar dengan ribuan karyawan. Ayam Bakar Wong Solo dikenal sebagai pelopor waralaba asli Indonesia yang tertua di tanah air.

Kesuksesan bisnis ini tak bisa lepas dari nama Puspo Wardoyo sebagai seorang pengusaha yang tangguh.  Tak hanya sukses berbisnis, Puspo juga sukses membina rumah tangga multi istri alias poligami yang harmonis. Status suami yang beristri lebih dari satu itulah yang kini membuat Puspo dikenal sebagai Bapak Poligami Indonesia bahkan tak sedikit media massa yang menjulukinya sebagai Presiden Poligami Indonesia.

Puspo merancang sendiri menu-menunya dan bukan belajar dari buku, juru masak atau dari orang lain. Nilai lebih Ayam Bakar Wong Solo adalah Halalan Thayyiban. Halal artinya produk dan proses di Ayam Bakar Wong Solo memperhatikan aspek kehalalan. Thayyiban (baik) artinya disamping menu-menu yang disajikan adalah bahan-bahan yang segar (fresh) dan memiliki nilai gizi yang tinggi.

Tak hanya itu, ia  juga memiliki semangat untuk mendistribusikan 10%-30% dari hasil usahanya untuk kemaslahataan.   Kunci sukses Ayam Bakar Wong Solo tidak lepas dari keterikatan pada hukum-hukum Allah dalam menjalankan roda perniagaannya, sehingga selalu berupaya agar pekerjaan yang dilakukan dalam perusahaan benar-benar dalam angka penyelamatan diri dari siksa api neraka (QS. As-Shaf: 10-11).

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo. (Foto : Fah)

Selain kerja keras, ulet, keimanan serta ketaatan menjalankan syariat Islam menjadi kunci sukses Puspo Wardoyo dalam mengomandoi   Wong Solo. Baginya, bekerja tidak sekedar mencari nafkah. Lebih dari itu, bekerja merupakan sarana beramal dan beribadah. Setiap akan memulai dan mengakhiri kerja selalu ada kuliah 7 menit (kultum), pengajian, mengenakan jilbab bagi karyawati (sudah dimulai sejak  1992 dan menjadi pelopor karyawati berjilbab untuk rumah makan di Indonesia). Rahasia sukses Wong Solo yang lain sehingga bisa berkembang seperti sekarang, adalah secara khusus mengutip Al-Qur’an surat Al-Mukminun ayat 1-6

Ingin Meniru Arjuna.

Uniknya dari kecil, Puspo bercita-cita  menjadi seorang Arjuna, salah satu tokoh pewayangan. “Ketika masih kecil saya ingin menjadi pria seperti Arjuna, tokoh pewayangan yang menang dalam setiap pertempuran dan beristri lebih dari satu,” tutur anak ketiga dari 8 bersaudara itu.

Walau begitu Puspo sempat menjadi guru kesenian sebuah Sekolah Menengah Umum (SMU) Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi. PuspoWardoyo lantas banting stir dan  memutuskan untuk mendirikan warung lesehan kaki lima yang menyajikan menu ayam goreng sejak 1986 di kota kelahirannya Surakarta. Namun pada saat yang sama ada seorang perantau yang memberi informasi jika usaha kuliner di Medan saat ini sedang masa puncaknya.  Puspo lantas mencoba merantau ke Bagan Siapi api kembali menjadi seorang guru sambil mengumpulkan modal untuk mewujudkan usaha kulinernya di Medan. Di tanah Riau ini, Puspo juga mengakhiri masa lajangnya dengan menyunting Rini Purwani, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, rekan seprofesinya mengajar. Dengan modal yang telah ia kumpulkan tersebut, dan keinginan yang tinggi, ia bersama istrinya dan seorang anaknya yang masih kecil hijrah ke Medan.

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo. (Foto : Fah)

Sejak merintis Ayam Bakar Wong Solo di daerah Medan, Puspo meraih kesuksesan dengan menu ayam bakar. Pada 1993, ia membuka cabang pertama di Medan dan kemudian membuka restoran ketiga di Medan. Sejak 1997, Wong Solo sudah  berani mulai ekspansi ke luar Medan dan terus berkembang dan membuka cabangnya di berbagai kota di pelosok tanah air. Perjalanan bisnisnya demikian pesat sehingga membuat usaha kulinernya mendapat perhatian banyak kalangan.

Saat sukses mampu diraihnya bersama label Wong Solo, Puspo merasa tidak cukup dengan hanya memiliki istri satu orang saja. “Poligami itu adalah hak dan kebutuhan perempuan,” ujar Bapak dari 14 anak ini. Tak heran, ia pun memutuskan untuk menikah kembali dengan perempuan yang tak lain adalah salah satu karyawan Wong Solo. Tahun 1996, Puspo pun memutuskan untuk menikah dengan istri keduanya, Supiyanti. “Isteri kedua saya adalah mantan karyawan saya sendiri,” aku Puspo.

Tak hanya sampai di situ saja, setahun kemudian Puspo kemudian menikah kembali dengan seorang perempuan bernama Anissa Nasution yang juga merupakan mantan karyawan Wong Solo. “Istri ketiga saya seorang sarjana, juga mantan karyawan Wong Solo,” ujar franchisor Wong Solo ini. “Menikahinya merupakan penghargaan kepadanya sebagai karyawan yang baik,” lanjutnya.

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo bersama karyawannya. (Foto : Fah)

Uniknya, dalam mencari calon isteri keempat, Puspo mengaku sempat memasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang. “Untuk mendapatkan istri keempat, saya pasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang untuk mencari seorang sekretaris pribadi buat saya,” aku Puspo. Alhasil, sekitar 400 pelamar berdatangan ke rumah makan Wong Solo di Semarang.

Bukan tanpa syarat, Puspo justru memiliki kriteria sendiri dalam memilih calon istri-istrinya. Baginya, perempuan yang cocok untuk menjadi pendamping pria matang   haruslah memiliki akhlak yang baik. “Harus sarjana, berjilbab, akhlaknya baik,” tutur Puspo menyebutkan satu persatu kriteria untuk menjadi pendamping hidupnya tersebut. Bahkan untuk memilih istri keempat, Intan Ratih, ia bersama istri keduanyalah yang memilih calon istri keempat yang nantinya akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Puspo Wardoyo.

Awalnya calon istri keempat tersebut dijadikan sebagai sekretaris pribadi Puspo. Puspo beralasan dengan menjadikan calon istri keempat tersebut sebagai sekretaris pribadi terlebih dahulu, Puspo akan bisa lebih dekat mengenal perempuan tersebut. Akhirnya pada 1999, Puspo menikahi Intan Ratih dan menjadikannya sebagai istri keempat.

Keempat istri Puspo memang tidak tinggal di dalam satu rumah sekaligus. Masing-masing istrinya tinggal terpisah.  Sebagai seorang pengusaha yang cukup sukses, pendapatan Puspo memang terbilang cukup besar untuk menghidupi keempat isteri dan belasan   anaknya. Keempat istrinya seperti yang diakui Puspo, tidak terlibat dalam bisnis restoran. Mereka hanya sekadar mengawasi standar bumbu masakan.

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo. (Foto : Fah)

Ketika Puspo menjalankan poligami dengan keempat istrinya, memang bukanlah tanpa halangan. Dalam beberapa kesempatan acara ataupun diskusi, Puspo Wardoyo memang sangat getol menyebarluaskan poligami kepada masyarakat. “Saya ingin menyebarluaskan poligami dan mengubah poligami yang sekarang imagenya jelek,” harap Puspo ke depannya. Tak heran, Puspo seringkali tampil di depan public dengan memberikan pengalaman-pengalaman postif pada saat ia menjalani poligami.

Bagi Puspo, poligami memang menjadi sebuah jalan hidup yang sempurna. “Kita kan meneladani perbuatan Rasulullah,” ujar pria yang memiliki hobi masak ini. di Indonesia yang mayoritas orang Islam yang selama ini poligami selalu ditentang dan dinilai jelek,” tutur Puspo. Baginya melakukan poligami lebih mulia ketimbang pelacuran yang dilakukan oleh kaum perempuan. Ia juga berpendapat bahwa dengan melakukan poligami, kejenuhan yang biasanya terjadi di antara pasangan suami istri dapat terhindarkan.

Kiat Sukses Poligami ala Puspo Wardoyo

Suami yang beristri lebih dari satu harus memiliki sikap dan tingkah laku ‘super,’ demi   menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarganya. Karena suami yang berpoligami dituntut untuk mampu bertindak adil, cukup dan mampu menjamin dari sisi materi para istrinya, serta tentu saha tanggungjawabsecara spiritual sebagai seorang imam, berikut Kiat-kiat Sukses berpoligami:

Pertama,dan paling utama, seorang suami harus berusaha meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Menjadi pemimpin keluarga yang adil dan patut diteladani oleh seluruh keluarga.

Kedua, harus mampu mendidik istri dan selalu mengarahkan untuk menjadi istri yang mukminat dan memahami kaidah poligami yang Islami.

Ketiga, memberi nafkah secara adil, sesuai kebutuhan, masing-masing istri dan keluarganya dengan rezeki yang halal dan thayyib (halal dan baik). Nafkah yang berasal dari rezeki yang halal dan thayyib sangat berpengaruh pada kehidupan rumah tangga. Dengan mengkonsumsi rizki yang halal dan thoyib, maka perasaan dan pikiran, emosi, dan perilakunya tentu menjadi baik (thayyib). Insya Allah, nafkah tersebut akan mendukung terwujudnya keluarga sakinah, dan ini  merupakan langkah awal yang baik bagi pendidikan anak.

H. Puspo Wardoyo – Pemilik Restoran Wong Solo. (Foto : Fah)

Keempat, membuat kesepakatan jatah hari gilir yang adil untuk seluruh istri. Prinsip utama dalam mengatur hari gilir adalah, kesepakatan diantara istri-istri dengan suami.

Kelima, membiasakan memuji istri dan berusaha mengembirakan serta memberikan motivasi setiap kali bertemu. Seorang suami tidak dibenarkan mememuji-muji salah satu istri di depan istri yang lainnya, dan juga tidak baik bila sampai menjelek-jelekan istrinya.

Keenam, Untuk menjaga stamina tubuh sehingga kesehatan tetap terjaga, seorang suami yang beristri lebih dari satu, sebaiknya banyak mengkonsumsi buah-buahan, sayur, ayam kampung, ikan laut dan madu.

Ketujuh, selalu melakukan komunikasi dengan seluruh istri dan anak-anaknya, walaupun hanya lewat telepon. Seorang suami yang beristri lebih dari satu, dan memiliki kegiatan usaha/bisnis di banyak kota, harus memperhatikan istri dan anak-anaknya yang sedang ditinggalkan.(Wis/Fah)

 

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0